Rabu, 07 Maret 2012

Fakta Ilmiah Tentang Kunang Kunang

Pernahkah anda denger cerita waktu kecil kalau kunang kunang itu lilinnya orang mati? hiii serem.....
Artikel Kunang-kunang
Kunang-kunang termasuk dalam keluarga kumbang dari ordo Coleoptera. Terdapat lebih dari 2000 spesies kunang-kunang yang tersebar di daerah tropis di seluruh dunia. Mereka dapat ditemukan di tempat-tempat lembab, seperti rawa-rawa dan daerah yang dipenuhi pepohonan. Di daerah lembab itulah kunang-kunang menemukan banyak sumber makanan untuk para larva.


Kita mengetahui bahwa kunang-kunang keluar pada malam hari, namun ada juga kunang-kunang yang beraktivitas di siang hari. Mereka yang keluar siang hari ini umumnya tidak mengeluarkan cahaya. Hanya beberapa kunang-kunang yang mampu mengeluarkan cahaya bila berada di tempat gelap.


Tapi kenapa ya, kunang-kunang mengeluarkan cahaya? Bagaimana mereka tahan dengan panas yang ditimbulkan cahayanya? Itulah uniknya kunang-kunang! Cahaya yang mereka hasilkan adalah cahaya tanpa panas yang dinamakan Luminescence.

Luminescence pada tubuh kunang-kunang dihasilkan oleh suatu zat bernama Luciferin. Nah, zat Luciferin ini bergabung dengan oksigen untuk mengeluarkan cahaya.

Quote:
Tahu tidak, walaupun para ilmuwan sudah dapat membuat jenis cahaya yang sama dengan yang dihasilkan kunang-kunang, para ilmuwan tetap harus mengambil beberapa unsur dari tubuh kunang-kunang, karena para ahli kimia belum dapat membuat zat seperti itu. Hal tersebut masih menjadi misteri alam hingga kini.


Code:
Bayi Kunang - Kunang

Pada kunang-kunang dewasa, selain untuk memberi peringatan tanda bahaya, cahaya pada tubuhnya berfungsi untuk menarik perhatian pasangannya. Tidak hanya kunang-kunang dewasa, bayi kunang-kunang yang masih berupa larva juga mengeluarkan cahaya. Cahaya pada larva berguna untuk memperingatkan hewan lain yang akan memangsa mereka agar tidak mendekat.


Setelah terjadi perkimpoian, kunang-kunang betina akan meletakkan telur-telurnya dibawah permukaan tanah. Telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva setelah 3-4 minggu dan akan terus diberi makan hingga musim panas berakhir. Setelah
kira-kira 1-2 minggu dari berakhirnya musim panas, larva tersebut akan berubah menjadi pupa, kemudian berubah menjadi kunang-kunang dewasa.

Seperti pada beberapa hewan lainnya, kunang-kunang juga memiliki arti penting dalam beberapa legenda dan kebudayaan. Dalam mitologi bangsa Maya, kunang-kunang sering dikaitkan dengan bintang. Kunang-kunang juga dianggap mewakili utusan dalam kuil-kuil Dewa Maya.


Orang-orang Cina kuno sering memasukkan kunang-kunang dalam sebuah kotak transparan untuk kemudian digunakan sebagai lentera. Sementara dalam kebudayaan dan cerita rakyat Jepang, kunang-kunang memiliki arti yang sama besarnya dengan bunga Sakura yang terkenal itu.


Nah, jika kalian melihat kunang-kunang yang sedang terbang, kunang-kunang tersebut pastilah berjenis kelamin jantan. Mengapa begitu? Ya, karena hanya kunang-kunang jantan yang memiliki sayap, sementara para betina melekat di dedaunan dan tanah.

Tahukah Kalian, Apa Fungsi Lampu di Tubuh Kunang-kunang ?


Kalian pernah melihat kunang-kunang ? Ya, kunang-kunang adalah binatang mungil yang ditubuhnya ada lampunya. Dimalam hari, tubuh kunang-kunang mengeluarkan kerlap-kerlip cahaya, sehingga binatang ini mudah dikenali.Kunang-kunang memang memiliki sistem yang menakjubkan. Serangga ini memiliki organ dalam tubuhnya yang memancarkan cahaya berpendar. Apa fungsi cahaya itu ? Cahaya ini sangat penting bagi kelestarian jenisnya, sebab kunang-kunang betina dan jantan mengenali jenis kelamin masing-masing berdasarkan cahaya mereka.
Organ berpendar pada kunang-kunang terdiri atas tiga lapisan, persis seperti lampu depan mobil. Sel-sel yang menghasilkan cahaya berada pada lapisan paling bawah. Sel-sel ini bertugas menghasilkan zat yang mudah terbakar. Zat ini bereaksi dengan oksigen dibawah kendali sebuah enzim. Akibat reaksi kimia ini, pertama-tama cahaya berpendar yang proses pembuatannya mirip seperti pada pabrik ini, diteruskan kelapisan cekung terdekat, dan kemudian ke lapisan transparan bagiana tas, dimana cahaya ini dipantulkan.
Kualitas sempurna dan tingkat poduktivitas 98% dari cahaya berpendar ini mengejutkan para ilmuwan yang meneliti kunang-kunang. Bola lampu yang digunakan manusia untuk penerangan hanya mampu mengubah 5% dari energi yang diterimanya menjadi cahaya, sedangkan 95% sisanya terbuang dalam bentuk panas. Karena 95% panas yang dihasilkan inilah, kita tidak tahan menyentuh bola lampu yang sedang menyala.
Akan tetapi, meskipun kunang-kunang menghasilkan cahaya hampir 20 kali lebih besar dari bola lampu, suhu kunang-kunang tidak naik karena cahaya mereka bersifat dingin. Manusia hanya mampu membuat cahaya dingin dilaboratorium setelah melakukan serangkaian reaksi kimia. Menakjubkan sekali, ya !!!

Selasa, 06 Maret 2012

Fakta Mengerikkan Seputar Planet Venus

Meski planet kedua di tata surya ini memiliki nama serupa dewi cinta Roma namun planet ini tak penuh cinta. Untuk permulaan, permukaan planet ini mencapai 900 derajat Fahrenheit.

http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/2OArcEp_nxicPmribXxIGQ--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yNTY7cT04NTt3PTUxMg--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/Inilah/1662372.jpg
Karenanya, planet kedua ini dinobatkan sebagai planet terpanas di tata surya. Lebih buruk lagi, selimut tebal karbon dioksida menekan 92 kali tekanan atmosfer Bumi di lanskap kering. Awan kusam yang menghalangi pandangan pada permukaan planet itu merupakan asam sulfur.
Seperti dibayangkan, mempelajari Venus terbukti menjadi pekerjaan sulit. Sedikit demi sedikit, ilmuwan mempelajari lebih banyak mengenai tetangga Bumi ini. Berikut beberapa misteris terbesar mengenai obyek paling terang di langit setelah matahari dan bulan.

Iklim serupa Bumi
Venus kadang disebut sebagai ‘kembaran jahat’ Bumi. Dalam ukuran, komposisi dan lokasi orbit, neraka Venus sebenarnya planet termirip Bumi. Di awal sejarah Venus, para ilmuwan menduga dunia itu sangat mirip Bumi, dengan lautan dan iklim lebih dingin.
Namun, lebih dari beberapa miliar tahun, efek rumah kaca yang ada sangat berpengaruh. Venus sekitar sepertiga lebih dekat matahari dibanding Bumi. Karenanya, Venus mendapat sinar matahari dua kali lebih banyak. Panas ekstra ini menyebabkan penguapan hebat di awal permukaan air.
Pada akhirnya, uap air terperangkap panas yang lebih panas. Pemanasan lebih lanjut planet ini memicu penguapan yang lebih besar hingga akhirnya lautan pun mengering dan menghilang. “Mekanisme ini masuk akal dari Venus awal yang seperti Bumi menjadi Venus saat ini,” kata kurator Astrobiologi David Grinspoon di Denver Museum of Nature & Science.
Ilmuwan interdisipliner pada misi Venus Express, pesawat ruang angkasa yang mengorbit Venus sejak 2006, ini mencari tahu kapan persisnya dan bagaimana Venus menjadi ‘tungku’ untuk membantu pemodelan perubahan iklim Bumi dan menghindarkan Bumi dari nasib serupa Venus.

Atmosfer berotasi super
Venus memutari porosnya jauh lebih lambat dari Bumi. Alhasil, setahun di Venus serupa 243 hari di Bumi. Berdasar hal ini, diketahui angin di puncak awan Venus bisa mencapai 360 km/jam atau 60 kali kecepatan memutar planet.
Secara proporsional, jika angin serupa muncul di Bumi, angin awan khatulistiwa mencapai kecepatan menakjubkan, 9.650 km/ jam. Pendorong cepatnya rotasi Venus adalah energi sinar matahari, papar Grinspoon. Namun, cara kerja penuh fenomena ini tetap menjadi misteri.

Berputar terbalik
Saat dilihat dari kutub utara matahari, semua planet di tata surya mengorbit matahari dengan arah berlawanan dan semuanya hampir berputar searah sumbunya. Namun tidak untuk Venus. Planet kedua ini memiliki rotasi retrograde seperti Uranus.
Artinya, matahari terbit dari barat dan terbenam di timur di planet itu. Perputaran searah jarum jam ini mungkin hasil tabrakan kosmik awal dalam sejarah Venus.

Petir misterius
Petir dari awan Venus hingga kini masih menjadi pertanyaan terbuka. Meski pesawat ruang angkasa Venus Express telah ‘mendengar’ elektromagnetik statis yang secara karakteristik menghasilkan petir di Bumi, kamera belum pernah ‘menangkap’ petir ini, kata Grinspoon.
Cara terbentuknya petir ini juga masih misterius. Di Bumi, peran kunci dimainkan kristal es awan. Di Venus, pasokan bahan ini sangat sedikit dijumpai di atmosfernya yang sangat kering.

Kehidupan Alien di Venus?
Grinspoon mengakui adanya argumen masuk akal mengenai kehidupan Venus, bukan di permukaan planet yang super panas itu namun di awannya. Sekitar 50 km di atas awan seharusnya ada tempat yang bisa dihuni yang memiliki tekanan dan suhu seperti Bumi.
Untuk mendapat energi, makhluk mengambang menyerupai bakteri bisa menggunakan sinar matahari atau bahan kimia di awan. Tentunya, makhluk ini akan mentolerir asam sulfat. Di sisi lain, extremophiles di Bumi menunjukkan, kehidupan bisa berkembang di lingkungan paling keras sekalipun. “Sangat perlu menjelajah awan karena beragam alasan. Salah satunya kemungkinan keberadaan kehidupan eksotis ini,” tutup Grinspoon.

Senin, 05 Maret 2012

Struktur Gunung Berapi Dibawah Samudera

Para ilmuwan dari British Antarctic Survey berhasil memetakan rangkaian gunung berapi di bawah laut beku di dekat Antartika. Beberapa di antaranya masih aktif. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut pertama di kawasan tersebut.

Menggunakan kapal yang dilengkapi dengan teknologi pemetaan dasar laut RRS James Clark Ross, para ilmuwan menemukan 12 gunung berapi di daerah tersebut. Tinggi gunung bervariasi dan ada yang mencapai 3.000 meter lebih dari dasar laut.

Dalam ekspedisi ini, mereka juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter. Kawah ini diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi. Sebanyak tujuh gunung yang aktif terhampar membentuk rantai mirip gugusan pulau.
http://www.industrialmarinepower.com/img/20110712110842.jpg

Penemuan ini sangat penting untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi ketika gunung berapi di bawah laut meletus atau runtuh. Juga untuk mengetahui seberapa besar potensi terjadinya tsunami yang bisa ditimbulkan.

Selain itu, hal ini menarik untuk melihat ragam serta seberapa banyak kehidupan makhluk laut yang berada di lanskap bawah laut tersebut. Itu terkait dengan air panas yang ditimbulkan oleh aktivitas gunung berapi.

Berbicara pada simposium internasional bertema "Antarctic Earth Sciences" di Edinburgh, Inggris, pada awal bulan ini, Phil Leat dari British Antarctic Survey menuturkan, "Masih banyak rahasia aktivitas gunung berapi di bawah laut yang belum kita pahami."

Menurut Leat, "Teknologi pemetaan bawah laut yang ada saat ini tak hanya menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi bumi, tapi juga memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan terhadap wilayah padat penduduk."

Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terkucil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju.
http://www.sciencenewsblog.com/pics/12_volcanoes_antarctic_survey.jpg

Terakhir kali terjadi letusan di wilayah ini pada 2008. Leat mengaku tim yang dipimpinnya cukup terkejut oleh penemuan itu.

"Kami tak bermaksud mencari gunung berapi di sana. Kami mendatangi wilayah ini karena ada daerah yang tak dikenal di peta dan kami juga tak tahu ada apa di bawah sana. Kami hanya ingin mengisi kekosongan itu," ucap Leat.

Selama penjelajahan, Leat mengaku banyak hal mengejutkan terjadi. "Sangat menyenangkan melihatnya," ucap Leat. "Ketika kami sedang asyik mengamati gambar sonar dasar laut di layar monitor, tiba-tiba dasar laut seolah menjulang menghampiri kapal."

Lain waktu, dia menuturkan, pada suatu malam mereka bertemu dengan gunung berapi yang sangat besar. Gunung tersebut sangat dekat dan seolah akan menerjang kapal RRS James Clark Ross. "Sangat menakutkan. Kami kira kapal akan membentur puncak gunung tersebut," ujarnya.

Beruntung, kapal tersebut segera memutar haluan. Ketika pada siang hari mereka kembali ke daerah itu, ternyata didapati beberapa puncak gunung memang timbul ke permukaan laut. Tingginya sekitar 50 meter dari permukaan laut.

Meski kebanyakan dari puncak gunung tersebut tak terlihat dari permukaan laut dan harus dibantu dengan perangkat pemetaan tiga dimensi untuk mendeteksinya, para ilmuwan berkeyakinan bahwa yang mereka temukan adalah gunung berapi.